JILBAB DAN DEKONSTRUKSI KEMOLEKAN TUBUH: Asketisme, Disiplin Diri, dan Perlawanan Perempuan Sufi

Seorang antropolog kondang asal Amerika, Bob Hefner (1998), satu waktu pernah menulis bahwa jilbab dan pakaian penutup aurat sejenisnya yang sekarang banyak dijumpai dikenakan oleh kaum perempuan di Indonesia adalah penanda luar dari proses Islamisasi mendalam yang sedang melanda masyarakat Indonesia sekarang ini. Seorang antropolog lain, Suzanne Brenner (1996:673-97), menambahkan bahwa penggunaan jilbab yang semakin luas di kalangan perempuan merepresentasikan keterputusan dengan masa lalu dan sekaligus juga penentangan dengan tradisi lokal. Di samping itu, menurut Brenner, jilbab dengan tata nilai yang melekat di dalamnya juga menunjukkan visi tentang masa kini dan masa depan dengan mengambil tradisi yang berasal dari luar (baca: budaya Arab).


Berbeda dengan Hefner dan Brenner yang hanya mengamati dimensi eksoterik terjadinya perubahan sosial dan Islamisasi ini, Julia Howell melangkah lebih jauh lagi dengan pengamatannya atas dimensi isoterik dari perubahan ini. Berbeda dengan scholar lain yang mengamati gejala kebangkitan liberalisme dan radikalisme/fundamentalisme dari proses Islamisasi, Howell menyatakan bahwa Islamisasi justru terjadi dalam dimensi yang sifatnya lebih spiritual. Merebaknya ajaran dan kelompok sufi, khususnya di kalangan kelas menengah perkotaan, menurut Howell adalah aspek yang paling menarik dari Islamisasi ini. Pandangan Howell ini menegaskan kembali tesis lama Anthony H. John dan Martin Bruinessen tentang peran dominan Sufisme dibalik proses Islamisasi massif masyarakat Indonesia pada masa lalu.


Penjelasan para ahli tentang dimensi eksoterik (Hefner, 1998; Brenner, 1996) dan isoterik (Howell, 2005; John, 1976; Bruinessen, 1992) proses Islamisasi, meskipun menarik dan tidak bisa diabaikan, sayangnya mengandung kelemahan mendasar. Mereka cenderung menempatkannya sebagai dua hal yang terpisah, bukan sebagai dua hal yang saling terkait (inter-connected/inter-related) satu sama lain. Menjelaskan bagaimana dimensi eksoterik seperti mengenakan jilbab dalam kaitannya dengan penghayatan spiritual atas cara berpakaian ini sebagaimana yang terjadi oleh kalangan pengikut ajaran Sufi (tarekat), oleh karenanya menjadi menarik untuk dilakukan. Hal ini karena di kalangan penganut tarekat, pandangan tentang dimensi shariah-hakekat, eksoterik-isoterik, ritual-spiritual, dan lahir-batin tidak terpisah tapi berkaitan satu sama lain.


Hal yang paling menarik tentang jilbab adalah bahwa, bahkan di antaranya pemakainya sendiri, tidak ada pemaknaan yang seragam dan tunggal tentangnya. Sebagian orang mengenakannya secara ala kadarnya dan bahkan cenderung ‘provokatif’ (baca: jilbab gaul). Sebagian lagi mengenakannya secara ‘moderat’, tidak ketinggalan mode tapi juga tidak mengabaikan kaidah syar’i.  Sementara sebagian kecil yang lain cenderung terlalu bersemangat dengan pilihan jilbab yang ‘kedodoran’ bahkan kadang kala ditambah dengan burka. Melihat beragamnya model dan gaya orang berjilbab maka mengaitkan jilbab dengan Islamisasi menjadi kesimpulan yang tergesa-gesa atau sebagai kesimpulan yang terlalu melompat (baca: jumping).


Tulisan ini ingin mulai dari hal yang ‘bersahaja’, yaitu menjelaskan jilbab sebagai sebuah manifestasi asketisme dan pendisiplinan atas tubuh. Di kalangan tarekat, jilbab hanya menjadi salah satu penanda luar dari religiusitas batin dan maqom spiritual yang dicapai para pengikutnya. Tulisan ini berangkat dari pengamatan yang penulis lakukan terhadap dua tarekat (naqsabandi-kholidiyah dan syadziliyah) di Sokaraja, sebuah kota kecil di Banyumas, Jawa Tengah, di mana penulis pernah melakukan riset.


Jilbab vs. Bikini: Komodifikasi dan Resistensi atas Hegemoni Pasar 


Beberapa bulan yang lalu saya terlibat dalam diskusi seru dengan seorang teman yang juga guru saya melalui e-mail. Kebetulan dia sedang melakukan riset tentang bangkitnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Ada beberapa bagian dari gagasannya yang harus saya tulis utuh. Begini kira-kira garis besar perdebatannya,


Saat ini orang tidak lagi menjadikan pertarungan ideologi, politik, ekonomi dan budaya sebagai yang paling utama. Wilayah pertarungan dan konflik telah berubah dari ruang publik (public domain) ke wilayah yang sangat pribadi (private domain) yang dia identifikasi sebagai tubuh (body). Badan wadag telah menjadi medan kontes yang paling utama dimana relasi kekuasaan diterapkan untuk kepentingan eksploitasi dan akumulasi keuntungan dengan kesenangan/kenikmatan (pleasure) sebagai komoditi utamanya.


Berkembang suburnya industri mode/fashion, farmasi, hiburan/entertainment, kosmetik, media, dan lainnya sekarang ini misalnya adalah contoh nyata bagaimana mekanisme eksploitasi atas tubuh ini dijalankan. Industri semacam ini (dan sistem pasar secara keseluruhan) bertahan hidup karena kemampuannya untuk memberikan definisi tunggal tentang makna kecantikan, ketampanan, dan kesehatan atas tubuh konsumennya. Penerimaan sukarela (dan lebih sering terpaksa) atas definisi tunggal tentang tubuh inilah yang menjadi tolak ukur utama bagaimana akumulasi keuntungan bisa dijalankan.


Cara-cara persuasif (iklan?) dan kadang ‘kekerasan’ (pornografi?) untuk memberikan makna tunggal atas tubuh membuat setiap orang cenderung kehilangan otonomi dan kontrol atas dirinya. Hasrat untuk melakukan klaim kembali atas otonomi dan kontrol diri inilah yang pada akhirnya menjadi perlawanan yang bersifat subversif terhadap pasar. Mode berpakaian seperti jilbab bisa dimaknai sebagai upaya orang (agency) untuk mengklaim kembali kontrol atas tubuh dan juga otonomi dirinya agar tidak didikte oleh pasar.


Yang tidak bisa saya terima dari teman saya itu adalah pandangan bahwa jilbab hanyalah modus resistensi atas pengaruh dan represi pasar an sich. Menurut saya pandangan ini terlalu menyederhanakan persoalan. Jelas bahwa tatanan pasar kontemporer menciptakan efek negatif dan destruktifnya sendiri yang membuat setiap orang merasa wajib untuk melawannya. Tapi kalau hanya itu alasannya orang melawan, maka apapun model perlawanan yang dilakukan, pada akhirnya akan terjebak dalam mekanisme eksploitatif dan akumulasi keuntungan yang dikembangkan pasar. 


Adopsi yang dilakukan industri mode/fashion terhadap jilbab seperti yang mulai jamak sekarang ini menunjukkan bahwa jilbab pada akhirnya kehilangan maknanya sebagai simbolisasi perlawanan. Alih-alih, jilbab pada akhirnya toh terjebak dalam logika komodifikasi dan akumulasi keuntungan pasar kapitalistik. Gejala komodifikasi atas jilbab ini membuat perempuan yang mengenakan jilbab tidak selalu berhasil membangun klaim heroik bahwa jilbab yang dikenakannya adalah bentuk ikhtiar sadar diri untuk melawan pesona ke-molek-an, ke-trendi-an, dan ke-seksi-an bikini seperti yang jamak dijual oleh kalangan industri mode/fashion sekarang ini.


Sufisme dan Transendentalitas Perlawanan : Dari Hegemoni Pasar ke Panoptisme Tuhan 


Membatasi dan bahkan menghindari kesenangan/kenikmatan badaniah telah sejak lama dipercaya sebagai jalan tercepat untuk bersatu dengan Tuhan. Hampir semua tradisi dan agama, dengan cara yang beragam, mengajarkan kaitan antara perilaku asketis ini dengan penyatuan antara manusia dengan Tuhan. Hidup selibat dan mortifikasi tubuh adalah contoh ekstrem dari laku asketis ini yang masih bisa ditemui di kalangan Kristen. Sementara perilaku diet yang ketat dengan menghindari daging (vegetarian) juga bisa menjadi contoh laku asketis di kalangan Hindu/Budha. 


Sufisme adalah bentuk pelembagaan pertama dan sistematis dari perilaku asketis semacam ini dalam tradisi Islam. Bisa dikatakan bahwa ajaran sufisme berkait erat dan akan selalu tidak lepas dari praktek asketisme semacam ini. Ajaran sufi berangkat dari ajaran sederhana bahwa manunggaling kawulo-gusti (menyatunya mahluk dan penciptanya) bisa dicapai melalui laku spiritual yang diarahkan untuk melakukan kontrol total atas tubuh, pikiran, dan ucapan. Hal ini dilakukan utamanya melalui ikhtiar untuk membatasi dan kadang juga menghindari kenikmatan/kesenangan badaniah.


Berpuasa dan berkhalwat adalah bentuk perilaku asketis yang paling banyak dilakukan di kalangan sufi. Melakukan diet secara periodik dan meditasi di sebuah ruang tertutup selama beberapa hari sambil mengamalkan formula dzikir tertentu seperti yang jamak dipraktekkan kalangan sufi adalah sebuah ikhtiar untuk membangun kembali kesadaran diri tentang ke-sementara-an (fana) segala kesenangan dan kenikmatan duniawi. Berkhalwat dan berpuasa juga menjadi semacam pelatihan untuk melakukan rekonstruksi diri tentang makna hakiki dari kesenangan dan kenikmatan yang tidak lagi berpusat di badan wadag (jasmani) tapi hati (rohani). Berkhalwat dan berpuasa dengan kata lain menjadi instrumen dekonstruktif atas kenikmatan semu/palsu (false-pleasure) dengan tubuh sebagai lokus utamanya menuju rekonstruksi atas kenikmatan hakiki (true-pleasure)  yang bertempat di jiwa/hati.


Bagi penganut sufi, ucapan dan perbuatan (termasuk berpakaian) adalah dua hal yang akan dimintai pertanggungjawaban di kehidupan yang lain (akherat). Narasi tentang seluruh anggota badan yang dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan ketika hari pembalasan terinternalisasi secara kuat dalam kesadaran diri penganut sufi. Kesadaran diri yang semacam ini juga menjadi prinsip pemandu dalam laku keseharian mereka. Masalahnya adalah kehidupan duniawi selalu menawarkan kesenangan dan kenikmatan yang menggerogoti pencapaian kesadaran diri semacam ini. Bagi kalangan sufi, selalu ada rasa curiga yang akut bahwa hedonisme dan konsumerisme seperti yang ditawarkan oleh pasar sekarang ini akan membuat mereka berpaling dan lupa diri yang akhirnya menjerumuskan mereka untuk semakin jauh dari mendekat dengan penciptanya.


Jilbab sebagai sebuah modus dan simbolisasi perlawanan serta ikhtiar membangun otonomi dan kontrol diri harus dimulai dari memberikan makna yang ‘transenden’ atas cara berpakaian ini. Memberikan referensi yang transenden atas jilbab oleh karenanya juga memberikan makna yang transenden atas perlawanan yang dilakukan. Bagi kalangan sufi, jilbab bukan sekedar usaha untuk melepaskan diri dari dan melawan hegemoni pasar kapitalistik tapi lebih penting dari itu adalah ikhtiar untuk menundukkan diri pada panoptisme Tuhan dalam laku keseharian mereka. 


Bagi pengikut sufisme, gaya hidup asketis memang menjadikan kontrol atas tubuh adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar. Cara berpakaian seperti mengenakan jilbab juga tidak lepas dari perilaku asketis ini. Pertanyaannya kemudian, bagaimana menjelaskan kaitan perilaku asketis sufi dengan jilbab?


Jilbab dan Perempuan dalam Tarekat: Potret Sokaraja 


Dalam beberapa kesempatan mengunjungi lokasi penelitian saya di Sokaraja dulu, saya selalu menyempatkan diri menghadiri acara pengajian yang diselenggarakan kalangan pengikut tarekat Naqsabandi-Kholidiyah dan Syadziliyyah. Kedua tarekat ini memiliki pengikut kaum Hawa yang cukup besar jumlahnya. Berbeda dengan muridnya yang berjenis kelamin pria, kedua guru tarekat ini mengharuskan kaum perempuan mendapat izin dari suami atau walinya terlebih dahulu sebelum menyatakan diri menjadi murid. Menariknya, murid perempuan di kalangan tarekat ini sebagian besar, jika bukan malah semuanya, adalah mereka yang menyandang status menikah.


Berbeda dengan tarekat Naqsabandi-Kholidiyah yang hampir semua pengikut perempuannya dari kalangan tua, pengikut perempuan Syadziliyyah lebih didominasi mereka yang berusia sedang (30-50 tahun). Pengamatan saya menunjukkan bahwa semua perempuan pengikut tarekat itu mengenakan penutup aurat setiap kali mereka bertemu dengan guru/mursyid mereka. Di kalangan perempuan pengikut Naqsabandi, pakaian penutup aurat biasanya adalah kerudung dan jarit panjang yang umum dipakai perempuan tua di pedesaan Jawa. Sementara di kalangan Syadziliyyah, pakaian penutup aurat adalah jilbab standar tanpa burka.  


Meskipun selalu mengenakan pakaian penutup aurat ala kadarnya dalam ritual wajib bersama dengan gurunya di Sokaraja, tidak semua dari mereka mengenakannya sebagai pakaian wajib harian di rumah. Yang menarik adalah pemaknaan mereka terhadap jilbab tidaklah kaku dan tidak tunggal. Semuanya memang sepakat bahwa menutup aurat bagi perempuan adalah wajib tapi itu tidak selalu harus identik dengan jilbab. Jilbab bagi mereka tidak sekedar pakaian fisik penutup aurat tapi lebih penting dari itu adalah ‘pakaian’ yang menutup dan melindungi hati. Dalam beberapa kesempatan ketika bertemu dengan penganut tarekat saya seringkali mendengar ungkapan, “ora ana gunane jilbab rapet nek laku karo ucapane ora bener” (tidak ada gunanya jilbab yang rapat menutup tubuh  jika perilaku dan ucapannya tidak benar).


Bagi perempuan di komunitas sufi, menutup aurat merupakan bagian dari ikhtiar berkelanjutan untuk melakukan kontrol diri dan mendisiplinkan tubuhnya dari pengaruh luar yang koruptif. Menutup aurat dengan cara mengenakan jilbab bagi perempuan di kalangan sufi adalah salah satu manifestasi untuk berpuasa dan sekaligus berkhalwat. Jilbab menjadi manifestasi berpuasa karena kemampuannya untuk tidak hanya menahan ‘lapar’ tapi juga mencegah dorongan sahwati untuk memamerkan keindahan dan lekak-lekuk tubuh. Disamping itu, jilbab juga merupakan ekspresi ber-khalwat untuk menyepi dan menjaga jarak dari hangar-bingar dunia mode/fashion yang glamour dan melenakan diri.


Menjadikan jilbab sebagai bagian laku asketis seperti halnya puasa dan khalwat membuat kaum perempuan sufi tidak hanya mampu membangun klaim tentang otonomi diri dan kontrol atas tubuh tapi juga mengakomodasi perkembangan dunia modern. Alih-alih memahaminya sebagai sekedar model dan gaya berbusana, pemaknaan tentang jilbab ala sufi justru menekankan jilbab dalam makna hakikinya sebagai ekspresi kesalehan hati para pemakainya.


Bagi kalangan sufi, aurat dipahami tidak sekedar kulit penutup badan wadag tapi lebih penting lagi adalah lapisan kasat mata yang melindungi hati dari pengaruh buruk kesenangan dan kenikmatan dunia.  Hal ini membuat pandangan tentang jilbab ala sufi juga tidak terlalu ekstrem dan tidak hitam-putih daripada kebanyakan mereka yang lebih berorientasi shariah. Penekanan pada aspek hakikat untuk menutup aurat yang tersembunyi di dalam hati (bukan badan) membuat kaum sufi lebih sensitif pada relativitas budaya mode berpakaian. Penggunaan jilbab yang tanpa burka dan kadang bahkan cenderung modis seperti yang saya temui di komunitas tarekat di Sokaraja menunjukkan sensivitas budaya yang semacam ini.    


Pemahaman tentang jilbab yang tidak konvensional semacam ini membuat komunitas sufi mampu untuk bernegosiasi dengan tuntutan modernitas. Jilbab ala kaum perempuan sufi menawarkan – meminjam istilah Brenner – “modernitas alternatif dan baru” yang tidak serta-merta mengikuti logika komodifikasi pasar. Namun berbeda dengan Brenner yang hanya mengamati dimensi luar dari bentuk modernitas alternatif ini, jilbab ala sufi justru merepresentasikan – meminjam pandangan Howell – sebuah penghayatan spiritualitas yang semakin mendalam dari proses Islamisasi massif yang sedang terjadi di Indonesia saat ini.

           

Penutup 


Sufisme menurut saya menawarkan bentuk perlawanan yang unik karena kemampuannya untuk menawarkan modus baru kontrol total atas tubuh dan otonomi diri tanpa harus terjebak dalam komodifikasi dan reproduksi pasar. Sayangnya, pandangan yang cenderung moderat tentang jilbab kadang membuat komunitas sufi/tarekat berada dalam posisi berseberangan dengan  kaum pro-shariah, yang menganggap jilbab sebagai pakaian wajib harian kaum perempuan. Pada titik yang lebih ekstrem, ajaran sufi/tarekat secara keseluruhan bahkan didiskreditkan sebagai di luar tuntunan Islam.  

(dimuat di Jurnal Kebudayaan Srintil, Jakarta)


This entry was posted on Friday, June 8th, 2012 at 11:45 am and is filed under Sokaraja-Banyumas Research. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.